Bangunan ini dibangun pada 1927 di Ngunut. Lantas berhenti beroperasi sejak 1940-an. Hingga sekarang menyisakan berbagai kompleks rumah peninggalan zaman kolonial Belanda.
Halaman depan gereja teramat luas. Ada tiga aktivitas yang sering dilakukan di sini. Pertama, bapak-bapak yang momong anak. Kedua, latihan kursus mengemudi mobil. Dan ketiga, acara rutin jemaat gereja pada Minggu.
Saya termasuk yang pertama. Membiarkan anak berlari-lari dan bermain-main di sana hampir setiap hari.
Momong anak di halaman yang begitu luas seperti ini cukup menyenangkan. Sebab, kita bisa melihat mereka dengan leluasa.
Ada satu hal yang sebenarnya ingin saya coba, yaitu jajanan bakso, somay, dan sempol --sejenis olahan berbentuk lonjong berbalut telur dan digoreng-- yang semuanya alih-alih pakai daging ayam, justru menggunakan daging babi (b2) sebagai bahan utamanya.
Penjual kaki lima sering hadir di acara yang ketiga saat acara jemaat gereja Minggu.
Hanya penasaran, sebenarnya, pun tidak mencoba juga tidak apa-apa... Ada yang pernah coba, bagaimana dengan rasanya dibandingkan pakai daging ayam?
Di kompleks ini juga sempat dijadikan wisata malam yang berdiri banyak warung kopi guna mengusir kesan angker sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Namun lagi-lagi, wisata itu tidak bertahan lama.

Komentari