Saya ini sebenarnya manusia atau remah roti yang tercecer di lantai?

Mari bersambat dan di rubrik narasi ini. Tinggalkan komentar agar saya tidak merasa sendiri...

Tidak ada yang memahami diri kita selain kita sendiri. Bahkan, belum tentu kita mengenali diri sendiri.

Setiap orang memiliki masalah. Setuju?

Masalah yang bagi orang lain barangkali hanya seukuran upil di ujung jari kelingking. Sedangkan bagi kita, rasanya seperti separuh bumi dijatuhkan ke atas pundak --betapa itu terlampau besar dan berat.

Tak jarang kita hendak mengeluh.

Hendak menyampaikan seberapa dalam kita sudah putus asa.

Juga berteriak kepada isi dunia, kalau kita adalah manusia.

Namun, kenyataan sangat jelas kentara. Kita bukanlah manusia dalam pandangan orang-orang itu. Kita hanyalah remah-remah roti yang tercecer di lantai. Sekadar menunggu waktu untuk disapu dan dihilangkan. Dimakan semut-semut yang sama-sama tidak mereka lihat sebagai makhluk yang hidup.

Dan hal yang paling sial, orang-orang justru merupakan keluarga terdekat kita. Miris.

Apakah hidup yang demikian sejajar --atau lebih rendah-- dengan cacing tanah ini masih layak dipertahankan?

Atau, berjabat tangan dengan Izrail adalah salah satu pilihan masuk akal?

Sejujurnya, saya masih takut kembali ke hadirat-Nya dalam keadaan begini.

Ya Allah, jangan matikan hamba dalam keadaan berutang

Adakah kemungkinan keadaan ini berubah menjadi lebih baik? Bukankah Dia yang maha kuasa atas segala-galanya niscaya tidak buta dan tuli?

Komentari